Skip to main content

Askep Narasi Pasien Dengan IMA



ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
INFARK MYOKARD AKUT
Oleh :  Enik Handayani
NIM : 160411023
Pembimbing : Iswanto Karso, S.Kep, MS, M.SC. RN

Pada kesempatan ini, Saya akan membahas tentang kasus infark myokard akut. Infark myokard akut adalah penyebab kematian tertinggi di dunia baik pria maupun wanita dan merupakan suatu peristiwa besar kardiovaskuler yang dapat mengakibatkan besarnya morbiditas dan angka kematian. Infark myokard akut dengan ST. Elevasi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Namun setelah adanya pelayanan CCU ( Coranary Care Unit), angka kematian turun menjadi 20% dan setelah penggunaan terombolitik dapat menurunkan angka kematian menjadi 10%. Sebanyak 478.000 pasien di Indonesia terdiagnosis penyakit jantung koroner. Menurut departemen Kesehatan pada tahun 2013 prevalensi Infark myokard akut dengan ST- elevasi meningkat dari 25% ke 40%. Prevalensi Infark myokard akut tertinggi berada di Nua Tenggara Timur (4,4%), diikuti Sulawesi Tengah (3,8%), sedangkan di Jawa Tengah mencapai 0,5%. Berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter dan 1,4% diagnosis dokter atau gejala (prabowo,2016).
Infark myokard akut adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh karena sumbatan pada arteri koroner. Sumbatan akut terjadi karena afero seklerotik pada dinding arteri koroner sehingga menyumbat aliran darah ke jaringan otot jantung. (M. Black Joyce, 2014).
Infark myokard akut adalah nekrosis otot jantung akibat terhentinya suplay darah arteri jantung secara mendadak. Ini merupakan penyakit arterosklerosis yang paling berat. (Namikaze,2016).
Infark myokard akut adalah rekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu (Nelisatina,2016).
Sedangkan Infark myokard akut menurut saya adalah penyakit jantung yang disebabkan karena sumbatan arteri koroner karena adanya arteroseklerotik yang dapat menyumbat aliran darah ke jaringan otot jantung.
Faktor penyebab Infark myokard akut: suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor : faktor pembuluh darah yaitu arteroseklerosis, sposme, arteritis. Faktor sirkulasi yaitu hipotensi, sterosis aorta, insufisiensi,. Faktor darah yaitu anemia, hipoksenia, polisitemia, penyebab kedua yaitu curah jantung yang meningkat karena aktivitas berlebihan, emosi, hypertyraidisme. Penyebab ketiga yaitu kebutuhan oksigen myocard meningkat pada kerusakan myocard, hypertropi miocard, hypertensi diastolic.
Faktor predisposisi yaitu faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah (usia lebih dari 40 tahun, jenis kelamin, hereditas, pas lebih tinggi pada kulit hitam). Faktor resiko yang dapat diubah (hiperlipidemia, hipertensi, merokok diabetes, obesitas, inaktifitas fisik, pola kepribadian tipe A, stres psikologis berlebihan.
Tanda dan gejala Infark myokard akut adalah trias yaitu : Klinis, laboratorium, EKG. Tanda klinis meliputi : nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda. Nyeri seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan, biasanya lengan kiri. Nyeri diatas region sternal bawah dan abdomen bagian atas ini merupakan gejala utama. Nyeri terjadi secara spontan tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional. Nyeri dapat menjalar ke rahang dan leher, nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforosis berat, pening atau kepala terasa mbliyeng dan mual muntah. Dari hasil laboratorium didapatkan pernafasan enzim jantung CPK-MB/CPK isoenzim yang ditemukan pada otot jantung meningkat antara 4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam dan memakan waktu lama untuk kembali normal. AST ISGOT meningkat kurang nyata /khusus terjadi dalam 6-12 jam. Memuncak dalam 3 atau hari. Pada EKG yang terjadi pada fase awal adanya gelombang T tinggi bdan simetris. Kemudian terdapat elevasi segmen ST, adanya gelombang Q/QS yang mendalam adanya nekrosis. (Eninurs,2015).
Patofisiologi infark myokard akut paling sering adalah oklusi lengkap atau hampir lengkap dari arteri koroner, biasanya dipicu oleh ruptur plak arterosklerosis yang retak dan diikuti oleh pembuluh terombus. Ruptur plak dapat dipicu oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal berasal dari aktivitas fisik berat dan stres emosional berat seperti kemarahan serta peningkatan respon system saraf simpatis akan meningkatkan kebutuhan oksigen myocardium. Apapun penyebabnya, ruptur plak arterosklerosis akan menyebabkan paparan aliran darah terhadap inti plak yang kaya lipit, masuknya darah dalam plak menyebabkan plak membesar memicu pertumbuhan thrombus dan aklusi partial atau komplit dari arteri coroner ( M. Black, Joice, 2014).
Pengalaman saya bekerja di Rumah Sakit Pemerintah, pernah menjumpai pasien di ruang jantung dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri seperti tertusuk-tusuk, nyeri menjalar ke leher, nyeri berlangsung lebih dari 30 menit, pasien mengeluh sulit tidur dan sering terbangun dari tidur ketika serangan nyeri muncul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien gelisah, pucat, keringat dingin dengan TD 160/90, nadi 100x/mnt, RR 32x/mnt pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan enzym jantung : CPK-MB/CPK isoenzim, LDH/HBDH, AST/SGOT, pada EKG ditemukan ST elevasi, Q atau QS yang mendalam, dan dokter mendiagnosis infark myokard akut dengan riwayat penyakit hipertensi dan perokok.
Untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien tersebut dilakukan proses keperawatan meliputi : Pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi menentukan kriteria hasil, melakukan tindakan keperawatan dan evalensi ( Nanda, 2015). Langkah pertama yang dilakukan adalah pengkajian yaitu : pengumpulan informasi subjektif dan objektif. Data subjektif didapat melalui anamnesa terhadap pasien dan keluarga. Data objektif didapat melalui pemeriksaan fisik dan tenaga kesehatan misalnya hasil dari pemeriksaan laboratorium, foto rongten, EKG. Dalam pengkajian ini, saya menggunakan persistem karena lebih sederhana dan lebih fokus ke masalah yaitu pasien mengeluh nyeri dada sebelah kiri seperti tertusuk-tusuk dan menjalar ke leher serta berlangsung lebih dari 30 menit,gelisah,pucat,gejala tersebut adalah gejala yang khas pada pasien IMA.
Setelah data terkumpul semua, langkah kedua yaitu pengelompokan data (analisa data) terdiri dari data subjektif dan data objektif untuk merumuskan diagnosa keperawatan. Pada kasus ini diagnosa yang muncul adalah nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ; iskemia,Nyeri acut adalah pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan atau yang muncul akibat kerusakan jaringan actual atau potensial atau yang digambarkan sebagai kerusakan dengan karakteristik ; nyeri yang terjadi secara mendadak dan terus menerus seperti tertusuk- tusukdapat menjalar ke leher,bahu dan ke lengan kiri sering disertai sesak dan pucat(Nanda,2015)
Setelah menegakkan diagnosa keperawatan, maka langkah selanjutnya adalah mengatasi atau menyelesaikan penyebab masalah dengan membuat intervensi keperawatan dan menetapkan tujuan menggunakan NOC. Melalui kreteria hasil dan memilih intervensi keperawatan yang sesuai dengan masalah tersebut dengan menggunakan NIC.
Tujuan dilakukan intervensi keperawatan pada diagnosa nyeri akut adalah dengan indikator pasien mampu mengontrol nyeri dengan target skala nyeri dalam rentang 1-3 dan kualitas tidur cukup.
Skala nyeri adalah indikator yang digunakan untuk mengukur tingkatan nyeri dengan menggunakan angka 0-10 (comparative pain scale),dengan pengelompokan skala nyeri 0 : tidak ada nyeri, 1-3 : nyeri ringan, 4-6 : nyeri sedang, 7-10 : nyeri berat.pada kasus ini saya ingin mencapai target skala nyeri 1-3 karena pada kasus IMA bisanya serangan nyeri berulang dan tergantung banyaknya sumbatan akibat aterosklerosis yang menurut banyak teori sulit untuk diatasi kecuali dengan tindakan medis PTCA atau dengan GRAF VASKULER
Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur,kualitas tidur yang baik dapat memberikan perasaan tenang,energik dan tidak mengeluh terhadap masalah tidur,salah satu faktor yang mempengaruhi tidur adalah penyakit yang dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik sebagai penyebab gangguan tidur dimana individu yang sakit membutuhkan waktu yang banyak dari biasanya selain itu siklus bangun – tidur selama sakit juga dapat mengalami gangguan.pada kasus ini pasien mengalami gangguan tidur sebagai akibat dari nyeri yang ditimbulkan akibat IMA oleh karena itu target yang ingin saya capai adalah kualitas tidur yang cukup sebagai manifestasi dari penurunan skala nyeri akibat dari kemempuan diri pasien dalam pengontrolan nyerinya.
Intervensi yang saya pilih adalah ajarkan relaksasi Benson yaitu satu cara untuk mengurangi nyeri dengan cara mengalihkan perhatian kepada relaksasi sehingga kesadaran klien terhadap nyerinya berkurang,relaksasi ini dilakukan dengan cara menggabungkan relaksasi yang diberikan dengan kepercayaan yang dimiliki oleh klien Dengan rasional relaksasi benson mampu mengatasi kekawatiran,kecemasan atau stres melalui pengendoran otot-otot dan syaraf sehingga membuat kondisi istirahat fisik dan mental. Sementara spirit tetap aktif. Dalam keadaan relaksasi tubuh dalam keadaan haemostasis atau seimbang, tenang, tetapi tidak tertidur, otot-otot dalam keadaan rileks dalam posisi tubuh yang nyaman karena bekerja adalah sistem syarah sympatis yang dapat menekan rasa tegang cemas dan nyeri.
Kemudian langkah selanjutnya adalah implementasi keperawatan yaitu melaksanakan intervensi yang telah ditentukan,kemudian langkah terakhir adalah evaluasi yaitu mengetahui apakah tujuan yang telah dibuat sesuai dengan indicator dan target  yang diharapkan apa belum.
Kesimpulan dari kasus ini adalah bahwa IMA merupakan penyakit jantung yang disebabkan karena sumbatan arteri coroner karena adanya arterosklerotik yang dapat menyumbat aliran darah ke otot jantung,pada pengkajian ditemukan tanda dan gejala yang khas pada IMA yaitu nyeri tiba – tiba di dada kiri seperti tertusuk – tusuk menjalar keleher dan lengan kiri,nyeri berlangsung lebih dari 30 menit,dengan kondisi pasien gelisah,sesak,pucat dan keringat dingin,diagnose keperawatan yang saya angkat adalah nyeri acut berhubungan dengan agen cedera biologis : iskemic.dengan indicator outcome pasien mampu mengontrol nyeri dan target outcome skala nyeri dalam rentang 1-3 serta kualitas tidur cukup, Intervensi yang saya berikan adalah ajarkan relaksasi Benson untuk mengurangi rasa nyerinya
Demikian pembahasan asuhan keperawatan dengan Infark myokard akut. Mudah-mudahan dapat digunakan sebagai referensi yang bermanfaat.



Daftar pustaka
1.    Nurs eni (2015) Askep Infark myokard akut: askepdb,blokspot.co.id diakses tgl 07-06-2017.

2.    Prabowo s (2016) latar belakang Infark myokard akut: eprint.ums.ac.id diakses tgl 8-6-2017.

3.    Herdiman & Kamitsum (2016). Tanda internasional diagnosis keperatatan, defiensi dan klasifikasi. Edisi 10, Buku kedokteran ECG, Jakarja.

4.    Mioohend dkk (2016) Nursing outcome classification edisi 5. Elsevier , Singapura.

5.    Nelisatina (2016) Makalah Infark myokard akut: nelisastina.blogspot.com diakses 06-06-2017.

6.    Namikaze minato(2016) Infark myokard akut: sakinakreatif.blokspot.com diakses 06-06-2017.

7.    M black (2014) Keperawatan medical bedah,Jakarta : Salemba medika

Comments

  1. How To Play Baccarat in Vegas With Cards at the Lowest
    Baccarat 온카지노 is the best-in-class gambling game that anyone can 바카라 enjoy and it is septcasino one that is very well received. As for the more interesting games,

    ReplyDelete
  2. Lucky Club Casino Site
    Lucky Club Casino is one of the most well-known UK online casinos, offering over 650 online casino games for Lucky Club Casino was 카지노사이트luckclub established in 2020 and since it was launched

    ReplyDelete

Post a Comment